Pesona Situ Patengan

situ-patenggang_gal_11.jpg

Bagi kalian yang ingin berlibur di Kota Bandung, namun merasa penat dengan kondisi Kota Bandung saat ini yang dilanda kemacetan lalu-lintas di mana-mana, polusi udara serta tumpukan sampah yang berserakan? Ada baiknya kita berlibur ke Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung. Tepatnya daerah Bandung Selatan yang berjarak kurang lebih 40 km dari Kota Bandung.

 Daerah tersebut memiliki suatu keunikan, yaitu banyak terdapat objek wisata alam yang beragam jenisnya dan letaknya hampir berdekatan. Apabila melalui Bandung, kita dapat menempuh waktu sekitar dua jam, namun berhati-hatilah bila ingin pergi ke sana pada hari sabtu atau minggu karena perjalanan akan memakan waktu lebih lama itu dikarenakan banyaknya orang yang pergi berlibur pada hari itu, sehingga sering terjadi kemacetan disepanjang ruas jalan dari Soreang menuju ke Ciwidey. Namun rasa lelah yang dirasakan pada saat melakukan perjalanan senantiasa akan hilang begitu sampai ke lokasi wisata.

Ciwidey sangat terkenal dengan daerah dingin, pegunungan, dan kebun teh. Namun dibalik itu, Ciwidey memiliki objek wisata yang sangat memesona salah satunya adalah Telaga Patengan, tapi kebanyakan orang menyebutnya Situ Patenggang. Hamparan air yang luas, dengan sentuhan kabut tipis yang menggantung diatasnya, menambah indahnya suasana Situ (danau). Dengan melihat tenangnya air danau, segarnya udara yang kita hirup, serta sejuknya suasana danau dapat membuat kita merasa damai dan juga melupakan sejenak kepenatan serta stress yang sedang dihadapi. Situ Patengan ini diresmikan sebagai kawasan wisata oleh Drs. H. Karna Suwanda, Agustus 1989 dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Kab. Bandung serta Koperasi Pegawai dan Pensiunan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

situ-patenggang_gal_31.jpg

Konon, air danau tersebut tercipta dari derai air mata dua insan yang dilanda asmara, bernama Dewi Rengganis dan Raden Indrajaya. Karena asmara yang begitu dalam, keduanya berniat untuk saling mencari (pateang-teangan). Oleh karena itu, kata ”pateangan” akhirnya menjadi nama danau di kaki pegunungan Patuha tersebut. Lalu mereka menyeberang ke pulau di tengah telaga (yang kini disebut pulau asmara) dan akhirnya bertemu. Di pulau asmara terdapat sebuah batu, lalu mereka saling mengikat janji menjadi suami istri abadi di batu tersebut. Maka penduduk sekitar sampai saat ini menyebut batu tersebut dengan nama Batu Cinta. Pulau Asmara dan Batu Cinta inilah yang akhirnya menjadi tujuan para wisatawan, karena menurut ceritanya, siapapun yang singgah ke Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara maka akan mendapatkan cinta yang abadi.